Kamis, 05 Februari 2009

“Arti Cinta”

cinta adalah kekuatan
yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan
mengubah kandang jadi taman
mengubah penjara jadi istana
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah menjadi muhibah
itulah cinta!



“Tak Dapat Mengartikan Cinta”

sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
namun tanpa lidah,
cinta ternyata begitu terang
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta
dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
cinta sendirilah yang menerangkan cinta
dan percintaan!

“Pohon Zaitun Masih Berbunga”

Di kota Basrah
Seorang Ibu melagu
Didepan ayunan bayinya
Mendendangkan lagu sayang
Tidurlah nak, malam masih panjang
Pohon zaitun di halaman masih berbunga
Katakan pada dunia kita masih ada

Seribu satu cerita masih aku punya
Untuk mengantarkan kau dewasa
Syahrazad mungkin habis cerita
Tak menyangka di ujung umur dunia
Seorang durja memporak-porandakan negeri kita
Namun doa raibah
Membuka pintu Tuhan
Pintalah apa yang bisa kau pinta
Pintalah zaitun tetap berbunga
Pintalah darah syuhada menjadi pupuknya
Pintalah negeri kita tetap ada
Pintalah apa yang bisa kau pinta
Pintalah nak
Pinta!
Tuhan menjaga



“Mabukkanlah aku”

Tuhan mabukkanlah aku
Dengan anggur cinta-Mu
Rantai kaki erat-erat
Dengan belenggu penghambaan
Kuraslah seluruh isi diriku
kecuali cinta-Mu
Lalu recai dadaku
Hidupkan lagi diriku
Laparku yang maha pada-Mu
Telah membuatku
Berlimpah karunia



“Kau Mencintaiku”

Kau mencintaiku
Seperti bumi
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menanggung beban derita
Tak pernah lelah
Menghisap luka

Kau mencintaiku
Seperti matahari
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak perna lelah menghangatkan jiwa

Kau mencintaiku
Seperti air
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membersihkan lara
Tak pernah lelah
Menyejukkan dahaga

Kau mencintaiku
Seperti bunga
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menebar mekar aroma bahagia
Tak pernah lelah
Meneduhkan gelisah nyala






Minggu, 11 Januari 2009

ADAKAH KEADILAN UNTUK PALESTINA?

  Penyerangan Israel terhadap Palestina telah memakan banyak korban. Oleh karena itu penderitaan di Palestina kian hari kian beratambah. Puing-puing reruntuhan tak terhitung jumlahnya akibat serangan darat dan udara olah Israel.

  Menurut beberapa sumber, Israel telah merencanakan penyerangan besar-besaran ini sekitar setahun silam. Termasuk juga Israel sudah mengantisipasi respon internasional akan invasi biadabnya itu. Israel memproyeksikan penyerangannya itu serupa invasi AS ke Iraq. Demikian dituturkan oleh Hareetz—salah satu harian dan media online terbesar di Israel.

 
“Persiapan yang panjang, pengumpulan informasi yang saksama, penipuan publik dan operasional—semua ini sudah dirancang oleh Departemen Pertahanan Israel pada operasi menumpas Hamas di Jalur Gaza.” Papar harian itu.

  Sesuai rencana setahun silam, pada Sabtu pagi itu (27/12), pesawat tempur Israel menghajar sebuah truk minyak yang sedang melaju di luar Rafah dekat perbatasan Mesir. Beberapa diantaranya tewas dan sisanya terluka parah. Malamnya, peswat tempur Israel menyerang daerah sekitar kawasan Rumah Sakit Shifa dan Stasiuin TV Al Aqsha. Menurut sebuah majalah online, sasaran Israel sesungguhnya hanyalah Hamas bukan warga sipil. 

  Mayor Jenderal Yoav Galant, Panglima operasi ini mengatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk mengembalikan Gaza ke masa lalu dengan korban sebanyak-banyaknya, tak peduli wanita, anak-anak ataupun orang tua.

  Sebanyak 1,5 juta warga Jalur Gaza kini menjadi tumbal persenjataan perang paling mutakhir di abad ini. Mereka menjadi target uji coba keampuhan ribuan bom tandan (kluster) yang di dalamnya berisi ratusan bom uranium dan setiap menit meledak di Gaza.Sekelumit tentang teknologi tempur Israel di Gaza, tank-tank Achzarit mereka mampu bertahan dari ledakan ranjau-ranjau darat,kendaraan lapis baja Namer dilengkapi dengan Continental Motors (US) atau mesin tangguh MTU buatan Jerman.Sistem pertahanan mutakhir dari Italia juga dipasang di kendaraan tempur Puma. Israel juga memasang sistem perang berteknologi robot futuristik Alenia,semacam Sky- X,sistem pertama di dunia yang mampu menggerakkan pesawat tanpa pilot dalam manuver tempur di udara. Semua teknologi perang modern itu dikerahkan semata untuk melawan pejuang Hamas di Palestina yang hanya menggunakan roket-roket berteknologi sangat sederhana. Bagaimana warga Palestina mau selamat, kalau Banker-banker sebagai alat penyelamat mereka sudah di babat habis (dibom) oleh Israel.

  Akan tetapi,
"Kami tak akan meninggalkan tanah air kami. Kami tak akan mengibarkan bendera putih dan tak akan berlutut kecuali pada Tuhan, ada darah di mana-mana, banyak yang terluka dan menjadi martir di tiap rumah dan tiap jalan. Gaza hari ini dihiasi darah. Martir itu bisa bertambah dan bisa lebih banyak lagi yang terluka. Tapi Gaza tak akan pernah hancur dan tak akan pernah menyerah," tegas Haniyeh, pemimpin Hamas.


"KAPAN DUNIA BERTINDAK TEGAS!!"

Riza Aisyah S. - Hanna Mutiara P/ 7A SBI

Rabu, 26 November 2008

Dampak Positif dan Negatif Adanya Internet

Sekarang internet telah marak. Tak peduli kalangan muda ataupun tua. Apalagi pada kalangan para siswa.

Dengan internet, kita dapat mencari berita, info penting, download lagu-lagu atau video dan mungkin buku-buku pelajaran yang kita butuhkan. Kita juga dapat mengetahui buku-buku apa yang sedang laris atau buku-buku pengeluaran terbaru, atau bahkan sinopsis dan info tentang film terbaru yang akan ditayangkan dibioskop dan jadwal mainnya. Memperoleh foto atau gosip terbaru tentang artis idola dan semacamnya. 

Pada dasarnya, internet mempunyai damapak positif dan dampak negatif. Karena itu internet juga dapat merusak moral para remaja.

Dampak positif dari internet adalah dapat membantu pembelajaran para siswa dan memberi pengetahuan lebih luas kepada setiap kalangan. Atau mungkin kita dapat mengetahui berita-berita penting dan informasi diseluruh dunia melalui internet. Sedangkan dampak negatif pada internet adalah dengan adanya situs-situs yang biasanya terdapat foto atau video "Yang Tidak Patut Dilihat" oleh anak-anak. Dengan adanya  situs-situs tersebut, anak-anak muda jaman sekarang cenderung lebih cepat mengerti pada apa yang seharusnya belum mereka ketahui. 

Oleh karena itu, bagi kalian para siswa yang sering menggunakan internet janganlah sekali-kali menggunakan internet untuk mencari hal-hal yang negatif. Usahakan menggunakan internet sesuai dengan kebutuhan untuk melakukan hal yang positif yang dapat membantumu dalam pembelajaran dan memperluas pengetahuanmu. Oke?!

Hanna Mutiara P

7a SBI

HANTU ANAK IBU KOSKU

“Fiuhhh.....” desahku sambil menghapus peluh yang bercucuran di dahiku. “Sudah selesai Yan?” Sina melongokkan kepalanya lewat pintu kamarku yang terbuka. “Sudah, wah aku capek banget Sin!” jawabku. “Kamu sih bawa barang banyak banget,” Sina duduk di pinggir ranjangku. “Maklumlah aku kan baru pertama kali ini jadi anak kos,” aku menepuk pundak Sina. “Aku juga tapi barang bawaanku sedikit, nggak banyak kayak kamu!”. “Hehehe.....” aku meringis lebar.

Namaku Ni Wayana Rima, asalku dari Bali, umurku baru enam belas tahun dan esok adalah hari pertamaku sekolah di SMA Rajawali yang berada di kota Bandung, jauh dari kota asalku. Mulai saat ini aku akan tinggal di tempat kos bersama teman baikku yang bernama Ni Luh Sina (dia juga dari Bali). Hari pertama berada di Bandung kulitku langsung memerah dan gatal-gatal, biasa aku paling alergi dingin.

“Yan, kulitmu masih gatal?” Sina meneliti lenganku. “Agak mendingan kok!”. “Baguslah kalo begitu, jangan sampai kambuh lagi ya! Masak kamu mau sekolah dengan kulit bentol-bentol sich? Ini kan hari pertamamu masuk,” ujar Sina menggebu-gebu. “Iya juga sich, eh tapi Sin kamu ngerasa aneh nggak dengan kos kita ini?” tanyaku mencoba mengalihkan suasana. “Kenapa?”. “Kos kita ini kan bagus, kamarnya juga lumayan gede trus letaknya strategis tapi kenapa kok gak ada yang mau kos di sini ya?” tanyaku setengah berbisik. “Mungkin kurang promosinya,” jawab Sina tak kalah pelan. “Apa mungkin ada hantunya ya?” ucapku asal-asalan. “Huusshhh..... jangan ngomong gitu ah, pamali tau!” Sina mencoba mengingatkan. “Tapi kan.....”. “Sudahlah jangan membicarakan itu lagi, lebih baik kamu sekarang istirahat. Pasti kamu kamu capek banget kan habis benah-benah segini banyaknya?” sela Sina cepat. Aku mengangguk lemas menanggapi perkataan Sina. “Kalo gitu aku ke kamarku dulu ya, aku juga mo istirahat, biasa tidur!” Sina melangkah pergi. “Tapi ini kan masih sore?” bantahku keras namun Sina tetap cuek dan melangkah keluar kamarku.

Seperginya Sina aku merebahkan diri di ranjang sambil membuka-buka majalah donal bebek kesukaanku. Selang beberapa lama kemudian mataku terpejam lelah, tiba-tiba terdengar suara tangis bayi memenuhi setiap sudut kamarku. Pelan-pelan kubuka mataku, antara sadar dan tidak aku melihat sekelebat bayangan wanita berbaju putih dan hidungku mencium aroma mewangian bunga kenanga. “Ya Tuhan!” teriakku kaget kala melihat ada anak bayi tidur tepat di bawah ujung kakiku. Dengan takut-takut kuberingsut mendekati anak bayi tersebut, agak ragu-ragu kusentuh bayi itu tapi.....”Hah hilang?”. Aku mundur beberapa langkah diselimuti rasa takut yang hebat berharap anak bayi itu tak muncul lagi namun yang terjadi malah diluar dugaanku, bayi itu muncul lagi di bawah kakiku dan bahkan memegang kaki kiriku. “Aaaaa.....”

Aku terbelalak seketika, “Ah, cuma mimpi buruk.” masih dengan nafas tersenggal-senggal aku berusaha berdiri dari ranjang. Badanku terasa capek dan pegal-pegal, “Mungkin aku salah tidur,” ujarku pada diri sendiri. Kutengok jam weker berbentuk donal yang berada di atas meja belajarku, kedua jarumnya menunjukkan angka dua dan dua belas. “Masih terlalu dini untuk bangun, lebih baik aku tidur lagi. Tapi kalo aku tidur lagi kira-kira mimpi buruk lagi gak ya?” batinku. Lama kucoba untuk tidur lagi tapi sedikitpun mataku tak mau berkompromi.

Berusaha membuang rasa jenuh aku jalan-jalan keluar kamar, kubuka pintu samping rumah dan kemudian berputar-putar di sekitar halaman rumah kos. Udara dingin serasa menusuk tulang igaku, kulitkupun mulai memerah dan gatal. Kurapatkan jaket parasit pemberian nenek kesayanganku, badanku terasa agak hangat.

“Huacchiii.....” flu mulai menyerangku, gigiku gemeletuk menahan dingin. Tak terasa langkahku sampai juga di belakang rumah kosku, di sana terdapat sebuah tandon air dan beberapa pohon mangga. Entah kenapa mataku terus tertuju ke atas tandon air, dalam keheningan itulah tak kusangka air mengucur turun dari atas tandon air dengan derasnya. Tinggi tandon airpun berubah memanjang beberapa meter lalu dari balik rimbunnya dedaunan pohon mangga keluar wanita berbaju putih sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Dengan ketakutan kuamati wanita itu, sedikitpun kakinya tak menyentuh tanah. “Tolong..... tolong..... tolong anakku..... tolong.....!” ucap hantu wanita tadi sambil bergerak mendekatiku, dari biji matanya menetes air mata berwarna merah seperti darah.

“A....apa yang bi..... bisa kutolong?” dengan susah payah kugerakkan lidahku. “Anakku, anakku di dalam tandon air!” suaranya dingin dan kaku. “A.... anakmu kan k.... kam.... mu gen..... dong,” jawabku. “Tolong..... tolong.... tolong anakku!” hantu wanita itu meraih tanganku. “Jangaaannn..... jangan ganggu aku!” ujarku meronta-ronta melepaskan diri. Hantu itu semakin memegangku erat, dengan susah payah akhirnya kudapat melepaskan diri dan berlari ke dalam rumah. Dengan tergesa-gesa kukunci pintu kamarku dan membenamkan kepala di bawah bantal.

“Wayannn..... bangun! Sudah siang nih, hei bangun.....!” Sina menggedor-gedor pintu kamarku. “Iya iya aku bangun,” kubuka pintu kamarku. “Ni Wayana Rima, tadi malam kamu tidur jam berapa sich? Kok sekarang kesiangan,” omel Sina mirip nenek-nenek tua. “Memangnya sekarang jam berapa?” tanyaku masih dengan mata setengah terpejam. “Heh bangun Wayan, buka matamu! Ini sudah jam setengah enam!” Sina memukuli pipiku berusaha membuatku sadar. “Yang benar?” seruku terkejut sambil menyambar handuk yang tergantung di balik pintu.

Siangnya sepulang sekolah, aku dan Sina duduk-duduk terlebih dahulu di depan kelas. Akupun menceritakan pengalamanku tadi malam yang bisa dibilang menggerikan kepada Sina. “Imajinasimu terlalu tinggi Yan,” ucap Sina menanggapi. “Aku gak mengarang Sin, itu kenyataan! Rumah itu berhantu,” ujarku dengan nada meninggi. “Baiklah itu nyata tapi apa kau bisa buktikan?” tantang Sina. Aku terdiam ragu. “Hei Wayan, gimana? Setuju tidak?”. “Baiklah,”. “Siang ini juga,”. “Mana ada hantu di siang bolong!” bentakku. “Ok, ok..... entar malam.” jawab Sina jengkel.

Hari berganti malam dengan cepat, udaranya dingin dan mencekam. Rembulan bersinar terang tapi tak ada satu bintangpun yang menghiasi langit. Aku sedari sore sengaja tak memejamkan mata, tubuhku meringkuk di atas kasur ditemani jaket dan selimut tebal sambil memeluk boneka donal bebek (tokoh idolaku) sedangkan pintu kamar kubuka lebar dan lampu kunyalakan terus.
Riza Aisyah Sukarno
7A SBI

Seperti yang telah kuduga tepat pukul dua suara tangis bayi itu kembali terdengar, penuh rasa takut kucoba bangkit turun dari atas ranjang. “Darah?” tercengang aku menatap lantai kamar kosku dibanjiri cairan darah. “Sinaaa..... Sinaaa.....!” aku berlari ke arah kamar Sina. “Ada apa Yan?” Sina tergopoh-gopoh menghampiriku. “Darah di kamarku, ada darah di lantai kamarku!” kuajak Sina ke kamarku. “Oh Dewata Agung,” seru Sina kala melihat suasana kamarku. Lantai kamarku masih penuh akan darah, di ranjangku tidur seorang bocah bayi mungil dan disampingnya duduk hantu wanita yang tempo lalu aku temui di halaman belakang kosku sedang membelai bayi itu. “Wayan, kau benar.” ucap Sina pelan. Aku mendekam punggung Sina dengan erat dan memejamkan mata tak berani melihat.

Keesokan harinya kami menceritakan semua kejadian tadi malam kepada ibu kos dan dari situlah kami tahu misteri apa yang telah terjadi. “Dulu aku punya seorang anak gadis bernama Lena. Suatu hari almarhumah suamiku berniat menikahkannya dengan seorang saudagar tua tapi terkenal kaya di kampung sini, anakku menolaknya katanya dia sudah mempunyai kekasih. Suamiku tetap memaksa dan tidak mau mendengar penjelasan Lena, akhirnya Lena kabur dari rumah dan menikah diam-diam dengan kekasihnya. Beberapa bulan kemudian setelah lama mencari kesana kemari akhirnya suamiku menemukan tempat persembunyian Lena, lalu dia mengajak Lena pulang dengan paksa. Suatu malam Lena melahirkan bayi hasil pernikahannya dengan kekasihnya, bayinya laki-laki dan lucu. Tahu Lena melahirkan, suamiku marah besar, dia mengambil bayi itu dan membunuhnya dengan cara ditenggelamkan ke dalam tandon air yang ada di belakang rumah. Sedangkan Lena sendiri bunuh diri di kamarnya yang sekarang menjadi kamar Wayan.” jelas ibu kosku panjang lebar. Setelah mendengarnya tanpa menunggu lebih lama lagi, aku dan Sina bersegera pindah dari situ ke tempat kos baru yang lebih nyaman.

“Semoga arwah putri Ibu tenang dan bisa cepat kembali diterima disisi-Nya.” pamitku pada ibu kos

RIZA 7A SBI

Rabu, 19 November 2008

Akankah Cinta Menyapanya

Nat. Mengingat namanya saja membuat hatiku sungguh terasa ngilu. Tatapan matanya yang selalu menyiratkan rasa sepi dibalik tawanya yang riang dan gayanya yang lincah kini mulai membuka tabir misteri yang selama ini selalu disembunyikannya dengan rapi sekali. Seandainya waktu dapat diputar kembali, aku ingin sekali lagi duduk di depannya dan menawarkan bahu seorang sahabat untuk mencurahkan segala kisahnya.
Nat yang kukenal sebagai gadis yang benar-benar luar biasa, karena hampir setiap hari dia tidak pernah merasakan yang namanya jutek. Senyum dan tawa ngakaknya seolah menjadi ciri khas seorang Nat yang kasar sama cowok. Banyak teman, itulah satu hal yang membuatku iri dengannya. Kuakui, walaupun kami bisa dibilang sahabat baik, namun tidak sepenuhnya aku rela terhadap hal yang Nat miliki. Cara dia bicara, tatapan matanya yang cerah dan senyumnya yang selalu membuatku merasa tenang , semuanya ingin kumiliki. Aku ingin seperti Nat. Itulah prinsip yang bertahta di benakku sampai hari itu. Hari yang mengubah hidupku 180 derajat. Hari yang memperbolehkanku melihat siapa Nat yang sebenarnya.

******

Hari itu Senin yang membosankan, aku dan Nat nongkrong di kantin sambil melihat-lihat adik-adik kelas yang sedang berolahraga. Kami berdua tertawa saat melihat salah satu anak terjatuh saat akan melempar bola ke ring. Kukerlingkan mataku menatap Nat, kuperhatikan tawanya, sungguh manis, Cintia yang terkenal sebagai primadona kelas saja masih kalah dengan tawa Nat. Nat yang menyadari kalau sedang kuperhatikan langsung saja menegurku,”Hayo, ngeliat apa? Memang ada yang aneh pada wajahku?”. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Dan Natpun kembali meneruskan kegiatannya mengamati anak-anak kelas satu. Tidak ada yang salah pada wajahmu Nat, semuanya baik-baik saja, terlalu baik bahkan.
“Eh, Re, coba deh liat anak yang itu!”Teguran Nat mengagetkanku. “Eh… apa, mana?”Balasku tergagap.”Itu tuh! yang lagi kejar-kejaran di sudut lapangan!”Pintanya tak sabar.Kupicingkan mataku mencoba mencari apa yang Nat katakan. “Oh…itu toh? Emang kenapa?”, Tanyaku yang heran dengan tingkah Nat.”Gak pa-pa!”Balasnya pendek. Kuminum es tehku yang tinggal separo saat Nat menggumamkan kata-kata yang asing di telingaku,”Mirip Ian ya?”. “Apa Nat?” Tanyaku terkejut. Dia menoleh dan memandangku sejenak, lalu kembali menunjukkan senyum mautnya padaku dan menggelengkan kepalanya.Sampai bel tanda istirahat usai, Nat tak pernah lagi menyinggung-nyinggung kata-katanya tadi.
Sebenarnya mungkin bagi setiap anak, kata-kata Nat tidak ada artinya. Tapi yang kuherankan, selama tiga tahun aku bersahabat dengan Nat, tidak pernah sekalipun Nat mengucapkan kata “Ian “ dalam setiap percakapanku dengannya. Memang kami pernah ngobrol tentang cowok, bahkan sering. Tapi siapa lagi itu”Ian”, kenalpun kagak. Sebagai cewek, naluri ikut campurku mulai timbul. Dalam hatiku mulai bertanya-tanya siapa Ian. Jika saja itu adalah anak yang Nat sukai, bagaimanapun caranya aku harus menjadikan mereka berdua pasangan, karena jujur saja, jika Nat sudah punya pacar, maka otomatis dia akan lebih memilih menghabiskan waktu dengan pacarnya ketimbang dengan teman-temannya sehingga akhirnya justru aku yang lebih banyak mempunyai teman dan lebih terkenal dibanding dengan Nat. Gagasan yang jahat menurutku, tapi aku sudah tak tahan menghadapi Nat. Selalu saja Nat yang diperhatikan, selalu saja Nat yang dilihat, dan selalu saja Nat yang dibicarakan. Padahal aku jauh lebih menarik daripada Nat yang hanya mengandalkan senyumnya untuk memikat hati orang-orang di sekitarnya.
Malam itu segera kutelepon Nat dengan Hp-ku. “Halo, Nat, nonton yuk di twenty one!”Ajakku. Kuambil kunci mobilku dan kulajukan di jalanan ibukota. Sesampainya di Twenty One, kulihat Nat sedang menungguku di depan loket. Dia melambaikan tangan saat tahu akan hadirku. Dan dengan berlari-lari kecil, aku menghampirinya. “Kok tumben, hari gini ngajak nonton?” Tanya Nat sedikit heran.”Pengen aja, eh..sebentar aku beliin tiket dulu ya!”Dia hanya mengangguk patuh. Setelah mendapat tiket yang kami inginkan, kami segera membeli pop corn dan dua gelas jus sirsak sebelum masuk ke bioskop.
Sebelum film dimulai, kuperhatikan wajah Nat sedikit gelisah menatap Hp-nya yang berdering terus.”Ada apa Nat?”Tanyaku.”mama”, jawabnya pendek sambil terus gelisah. “Sebentar ya.. aku mau keluar dulu, ada telepon!”sambil beranjak berdiri dan langsung saja menuju pintu keluar. Kuawasi sosoknya yang tinggi semampai dengan rambut yang dikuncir kuda menghilang perlahan-lahan ke pintu exit. Setelah beberapa menit, dia kembali .”Siapa?” tanyaku penasaran.”Bukan siapa-siapa !”jawabnya sambil mengunyah pop corn.
Kami mampir ke cafĂ© sebelum pulang. Terangnya lampu di sana membuatku sadar bahwa ada yang tak beres dengan Nat. Wajah Nat yang biasanya merona kini pucat. Dia yang biasanya penuh senyum dan semangat, kini berganti Nat yang lesu . Dan saat kugandeng tangannya tadi, terasa sangat dingin sekali.”Nat, kamu gak pa-pa?”selidikku.Dia menatap ke arahku dan kulihat bahwa keletihan yang sangat telah menguasainya. Dia menggeleng dengan lesu.”Re, bisa tolong antarkan aku ke pantai Re?”tanyanya padaku. Aku tak mengerti apa yang terjadi padanya.”Re?” . Aku terkejut,”Ya..ya..ayo!”.
Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang menuju pantai. Di perjalanan kubiarkan Nat asik melamun. Kurem mobilku ketika kami sudah sampai di tepi pantai. Nat segera membuka pintu mobil diikuti olehku. Dia merebahkan dirinya di pasir pantai yang dingin dan lembut. Aku duduk di sampingnya. Dalam heningnya malam kami saling mengunci mulut.Cukup lama .
“Re, sekarang tanggal berapa?”tanyanya padaku sambil tetap menatap laut .”20 April, besok kita upacara hari Kartini di sekolah!”. Dia manggut-manggut. Tiba-tiba dia duduk .”Sekarang hari ulang tahun Ian”. Aku menoleh padanya, tak mengerti dengan apa yang dia katakana. Dia kembali menatap laut dan mulai menceritakan kisahnya.”Ian, Ian”. Dia berhenti sejenak, mengambil nafas panjang dan mulai bercerita lagi.”Satu orang dalam hidupku yang sanggup membuatku menunggu hingga bertahun-tahun. Kami bertemu 8 tahun yang lalu. Ketika masih SD. Waktu itu aku masih kecil. Aku tak tahu pasti dengan apa yang kulakukan. Dulu aku pendiam, sering murung, gampang nangis. Tapi semenjak dia datang , perlahan aku mulai berubah. Lalu ketika aku mulai menikmati perubahanku, dia pergi…jauh sekali.. aku gak tahu di mana dia sekarang. Tapi sebelum dia pergi,dia berjanji akan kembali jika saatnya tiba. Namun setelah sekian tahun, aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya. Mungkin, kamu menganggapnya lucu Re. Cinta monyet mungkin. Tapi, semakin dewasa, aku semakin rindu akan sosoknya. Selama 8 tahun, kucoba untuk tersenyum menghadapi sepi. Kucoba tuk mencintai orang lain. Tapi apa nyatanya, gak bisa…..tetap saja gak bisa….. Saking kapoknya, aku mulai menjauhi cowok dan bersikap kasar pada mereka. Kadang aku iri padamu Re. kamu gak punya beban menunggu”. Nat mengakhiri ceritanya dengan setetes air mata. Untuk pertama kalinya, aku merasa sakit. Walaupun bukan aku yang mengalaminya, aku merasa seperti ada yang mengiris-iris hatiku dan tak terasa air mataku meleleh dan tenggelam dalam heningnya pantai.
Malamnya kutatap surat warna pink di tanganku. Ketika akan pulang tadi, Nat menyerahkan surat ini kepadaku. “Re, jika dia kembali kapanpun, tolong berikan surat ini padanya!”Pinta Nat.Aku masih tak mengerti mengapa Re menyerahkan surat yang dia buat untuk Ian kepadaku. Teringat kisah Nat membuatku terenyuh. Dan kudekap surat itu dalam tidurku.
Besoknya aku berangkat sekolah dengan hati yang tak keruan. Cerita Nat masih terngiang-ngiang di benakku. Aku merasa bersalah atas anggapanku terhadap Nat selama ini. Hari ini kuputuskan untuk meminta maaf padanya. Sekolah tampak mulai ramai. Kulangkahkan kakiku ke arah kelasku, dan heran ketika teman-temanku banjir air mata. Ada apa ini pikirku. Didorong rasa penasaran, aku berlari melewati lapangan basket dan tiba di depan kelas dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Dan ketika kulihat ke dalam, jantungku berdegub kencang. Orang tua Nat .
Ketika melihatku datang, beliau segera menerjangku dengan tangis dan memelukku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dan aku tak butuh waktu lama untuk tehu bahwa Nat telah berpulang pada-Nya. Tepat setelah kami jalan-jalan. Dari ibunya aku tahu , ternyata selama ini Nat mengidap penyakit kanker otak. Dan yang paling membuat hatiku hancur adalah ketika aku tahu bahwa Nat meminta habis-habisan pada ibunya untuk bertemu denganku tadi malam. Dia tak ingin membuatku kecewa. Dia ingin bersamaku untuk terakhir kalinya.
Aku menyesal…. Sungguh menyesal. Aku tidak kuat lagi untuk menahan air mataku sehingga kubiarkan dia menetes deras.
Hari itu aku tak ikut pelajaran dengan izin sakit. Kubawa mobilku menuju pantai tempat terakhir kali aku bersama Nat. Kurasakan angin pantai yang dingin menyerbuku. Masih kupegang surat yang Nat berikan padaku malam itu. Kupandang surat itu lama sekali. Kini kusadari bahwa ada satu hal yang membuat Nat berbeda denganku, berbeda dengan yang lain. Tabah, itulah yang membedakannya dengan anak seumurannya pada umumnya. Bisa dibayangkan betapa sakitnya saat kita harus tersenyum menutupi hati yang hancur, tanpa air mata menetes dari mata kita. Itulah yang Nat sanggup lakukan pada dirinya. Mengunci rapat pintu hatinya dan membiarkannya beku untuk selamanya.
Nat. Satu-satunya sahabat yang membuatku “melihat” lebih luas. Mengapa justru meninggalkanku di saat aku mulai tahu arti dirinya bagiku. Kenapa Tuhan begitu tak adil. Dia mengambil seorang bidadari dari sisiku. “Laut yang biru, sebiru hati Nat yang selalu rindu akan perihnya cinta!”Teriakku.”Akankah cinta dapat menyapanya sekali lagi!”Raungku. Namun yang terdengar hanya deru ombak yang hampa.

******

Sepuluh tahun sejak kejadian itu. Kini aku sudah mempunyai keluarga. Kadang saat aku mulai menidurkan anak-anakku, sering sekali kuceritakan tentang sahabat mamanya yang begitu luar biasa. Dan ketika kusadar, mereka terlelap. Aku mulai beranjak tidur dan memohon dalam doaku untuk bertemu denganmu dalam mimpiku. Sambil menggenggam suratmu untuk Ian yang dulu kau berikan padaku, akupun membawa segala kenangan kita dalam bunga tidurku. Walaupun sampai saat ini Ian belum kutemukan, tapi aku yakin suatu saat nanti, atau mungkin di masa yang lain, Cinta kan menyapamu sekali lagi, dengan sentuhan sayap-sayapnya yang lembut, dan membawa Ian kembali padamu. Aku yakin itu Nat. Percayalah.


By: Hanna Mutiara P